Pastikan Mereka Bahagia

Penajam Paser Utara, 3 Desember 2019 – PSO ARSARI merupakan sebuah perwujudan dari Program Pelestarian Lingkungan di Kalimantan Timur. Program berupa suaka (sanctuary) ini digagas oleh Yayasan ARSARI Djojohadikusumo pada tahun 2019 serta berlokasi di area PT ITCI KU yang berada di bawah PT Enviro ARSARI dengan luas 173.395 Ha yang melingkupi 3 kabupaten yaitu Penajam Paser Utara (PPU), Kutai Kertanegara (KuKar), dan Kutai Barat (KuBar) di Kalimantan Timur. Program konservasi yang dikelola YAD di area seluas 19.122 Ha diperuntukkan bagi satwa liar dilindungi diantaranya orangutan, beruang madu, badak dan satwa endemik Kalimantan lainnya.

 

 

PSO-ARSARI digagas untuk menjawab kebutuhan suaka bagi Orangutan yang sudah tua dan bertahun-tahun berada dalam kandang karena dipelihara manusia secara tidak legal, disita dari perdagangan satwa ilegal sejak bayi, alasan kesehatan, dan kondisi lain yang tidak memungkinkan dilepasliarkan ke alam. Hal tersebut sejalan dengan misi YAD yakni meneruskan cita-cita pendahulu bangsa dengan melestarikan lingkungan untuk diteruskan kepada generasi mendatang.

PSO ARSARI merupakan kerjasama YAD dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Kalimantan Timur dan telah dirintis sejak tahun 2016. Kesepakatan kerjasama ini tertuang dalam Perjanjian Kerja Sama yang ditandatangani pada tanggal 15 Maret 2019 dengan nomor PKS 062/K.18/ TU/PROG/I/2019 dan 049/YAD/III/2019 tentang Penguatan Fungsi Dalam Rangka Konservasi Orangutan (Pongo pygmaeus) dan Satwa Liar Lainnya Serta Habitatnya di Wilayah Kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur.

 

 

Program dimulai dengan pembangunan fisik untuk klinik satwa maupun kandang karantina orangutan. Pada tanggal 3 Oktober 2019, kandang karantina dari PSO ARSARI ini diisi oleh 2 individu orangutan jantan pipi lebar (cheek pad) yang ditranslokasi dari Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki, Sulawesi Utara, bernama Bento dan Iskandar. Proses translokasi dimulai dari tanggal 27 September 2019 hingga tiba di lokasi PSO ARSARI tanggal 03 Oktober 2019 melalui jalur darat dan laut. Dilanjutkan dengan pengurusan perizinan pembangunan suaka orangutan di Pulau Kelawasan.

 

 

Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal (Ditjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menyampaikan bahwa nantinya Pulau Kelawasan yang masuk dalam administrasi pemerintahan Kabupaten Penajam Paser Utara akan dijadikan kawasan Pusat Suaka Orangutan (PSO) yang dikelola oleh YAD bersama dengan Balai KSDA Kalimantan Timur, dimana saat ini, pemanfaatan pulau tersebut masih dalam pengurusan izin dan menunggu rekomendasi dari Kementerian LHK. Rekomendasi izin tersebut segera diterbitkan sebagai acuan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara untuk memudahkan administrasi pemerintahan.

 

 

Selain perizinan, YAD telah melakukan sejumlah tahapan diantaranya studi kelayakan, terkait daya dukung dan daya tampung kawasan tersebut. Hasil studi pun sudah diserahkan kepada BKSDA Kaltim yang nantinya akan diteruskan kepada Ditjen KSDAE KLHK. Selain dari studi kelayakan, BKSDA juga mensyaratkan agar PSO ARSARI melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk mensosialisasikan rencana PSO tersebut yang telah dijadwalkan pelaksanaannya pada awal Januari 2020.

PSO ARSARI juga memiliki tim yang kompeten dan handal serta memiliki pengalaman yang cukup dalam hal penanganan pusat suaka satwa khususnya Orangutan, dari mulai Manajer Operasional, dokter hewan hingga animal keeper.

 

 

Peresmian PSO ARSARI

Pada hari Senin, 2 Desember 2019, PSO ARSARI diresmikan oleh Hashim Djojohadikusumo Bersama bersama dengan Direktur Jenderal KSDAE Kementerian LHK, Wiratno. Acara tersebut juga dihadiri oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Timur, Sunandar beserta jajaran staffnya. Selain itu, acara peresmian yang turut diliput oleh sejumlah media – baik cetak maupun elektronik – juga disaksikan oleh jajaran staff PT ITCI KU dan juga Dewan Pembina YAD, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo.

 

 

Acara Peresmian PSO ARSARI dimulai pada pukul 8:45 WITA dimana Catrini Kubontubuh yang merupakan Direktur Eksekutif YAD dan Ariseno Ridhwan selaku VP Corporate Communications ARSARI Grup bertindak sebagai pembawa acara.

Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan kemudian sambutan Bapak Willie Smits yang memberikan informasi tentang latar belakang pembentukan PSO ARSARI dan informasi tentang orangutan. Kemudian perkenalan tim PSO-ARSARI yang menghadirkan seluruh personil PSO-ARSARI yang dipimpin oleh Bapak Odom. Acara pun dilanjutkan dengan sejumlah sambutan secara berurutan oleh Bapak Sunandar sebagai Kepala BKSDA Kaltim, Bapak Hashim Djojohadikusumo selaku Ketua YAD, dan terakhir Bapak Wiratno yang merupakan Dirjen KSDAE KLHK. Setelah sambutan, dilakukan penandatanganan prasasti PSO ARSARI oleh Ketua YAD dan Dirjen KSDAE KLHK yang diikuti dengan kegiatan peninjauan PSO ARSARI.

 

 

Pada saat peninjauan PSO ARSARI, seluruh tamu undangan berkesempatan melihat secara langsung dua individu orangutan jantan yang berada di kandang karantina PSO ARSARI, yakni Bento dan Iskandar.  Dimana Bento dan Iskandar dapat dikatakan dalam kondisi yang sangat baik. Salah satu indikatornya adalah bulu-bulu di tubuh kedua orangutan kini semakin lebat. Hal tersebut tidak terlepas dari segala tindakan yang dilakukan oleh tim PSO ARSARI, dari mulai pemberian enrichment hingga mengurangi intensitas mereka berinteraksi dengan manusia. Hal tersebut dilakukan agar nantinya mereka siap untuk hidup di alam terbuka.

 

 

Selain orangutan, PSO ARSARI juga diperuntukkan untuk suaka satwa endemik Kalimantan lainnya. Salah satunya adalah Baner yang merupakan Kura-kura Darat Baning Coklat (Manouria emys). Baner adalah Kura-kura Darat endemik Kalimantan yang ditemukan dan diserahkan ke PSO-ARSARI pada 16 November 2019 lalu. Dan setelah menjalani beberapa pekan masa karantina, pada hari Senin, 9 Desember 2019 pukul 9:45 WITA, Banner dikembalikan ke BKSDA Kalimantan Timur untuk kemudian langsung dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Berbagi Bumi Bersama Mereka

Bento, Iskandar dan Baner hanya sebagian kecil dari sekian banyak spesies satwa yang dimiliki oleh Negara Indonesia. Tidak hanya tiga individu satwa tersebut, di area sekitar PSO ARSARI juga merupakan habitat satwa endemik, khususnya satwa endemik Kalimantan. Sebut saja Bekantan (Nasalis larvatus), Burung Madu Belukar (Anthreptes singalensis), Burung Pecukulur (Anhinga melanogaster), Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) hingga Ular Siput (Pareas carinatus) bisa dijumpai disini.

 

 

 

 

 

 

 

Tidak hanya menyelematkan populasi orangutan khususnya dari kepunahan, PSO ARSARI memiliki tujuan agar para orangutan yang berhasil diselamatkan bisa hidup bahagia tanpa harus dirantai dan disiksa oknum yang tidak bertanggung jawab.

Hal ini tentu membutuhkan kerjasama berbagai pihak. Dari mulai pemerintah melalui Kementerian LHK hingga peran aktif dari para pelestari satwa. Karena bumi ini akan menjadi lebih indah bila kita berbagi bersama mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *