Jejak Sejarah Bangsa dari Timur Indonesia

Selasa, 26 November 2019, Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) bersama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB Unhas) dan unit kerjasama keduanya yakni Mandala Majapahit Unhas, menyelenggarakan acara bertemakan pelestarian sejarah dan budaya yakni Seminar 726 Tahun Majapahit serta Jelajah Pusaka “Jejak Pangeran Diponegoro di Makassar”.

Seminar bertemakan “Kilau Jejak Majapahit di Timur Indonesia” dilaksanakan terlebih dahulu di Aula Prof. Mattulada di FIB Unhas yang penuh sesak oleh 300 peserta yang terdiri dari mahasiswa, pengajar, media, dan juga praktisi pelestari. Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza dengan latar video rekam jejak upaya pelestarian budaya oleh YAD selama ini. Diikuti dengan tarian pembuka yang mengejutkan sekaligus memukau peserta dengan kobaran api bernama Pepe-Pepeka Ri Makka. Dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia yakni Koordinator ManMa Unhas, lalu sambutan dari Direktur Eksekutif YAD, Kepala BPCB Jatim, dan akhirnya Dekan FIB Unhas yang juga secara resmi membuka seminar.

Seminar ini menghadirkan empat pembicara dari berbagai latar belakang, yakni Romo Gregor Neonbasu selaku antropolog dari Universitas Widya Mandira, Drs. Iwan Sumantri selaku arkeolog dari Universitas Hasanuddin, Adrian Perkasa, S.S, M.Hum selaku sejarawan dari Universitas Airlangga, serta Prof. Peter Carey selaku sejarawan sekaligus adjunct professor dari Universitas Indonesia. Masing-masing pembicara mengulik kebesaran Majapahit dan pengaruhnya di luar pulau Jawa dari sudut pandang keilmuwan masing-masing, dan paparan diikuti diskusi panel yang berlangsung dengan peserta yang antusias bertanya dan kian membuka pembahasan lebih dalam mengenai sejauh mana jejak sejarah kerajaan besar ini di timur Nusantara, dan semua bersepakat mengenai signifikansi jejak sejarah dari bagian timur Indonesia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan temuan penelitian yang selama ini lebih terfokus di Pulau Jawa.

 

Seminar berakhir di tengah hari bersamaan dengan waktu makan siang, dan kegiatan dilanjutkan dengan Jelajah Pusaka “Jejak Diponegoro di Makassar” yang dipandu oleh Prof. Peter Carey. Peserta Jelajah dibawa mengunjungi Makam Pangeran Diponegoro di Makassar, diikuti bekas rumah keluarga Pangeran Diponegoro di Jalan Irian no. 83 yang sudah menjadi ruko, lalu diakhiri di Fort Rotterdam di mana berlangsung diskusi Cerita Sukses Kamar Diponegoro oleh Peter Carey dan Sri Kusumawati, undangan YAD dari Museum Sejarah Jakarta. Diskusi berlangsung kondusif di ruang baca Prof. Matthes, yang diyakini sebagai bekas ruangan yang ditinggali oleh Pangeran Diponegoro serta keluarga dan pengikutnya selama masa pengasingan.

 

 

Diskusi ini sekaligus juga melanjutkan diskursus mengenai akurasi pembelajaran sejarah khususnya dalam sebuah situs bersejarah, yang dalam hal ini adalah perdebatan mengenai letak ruangan di mana Pangeran Diponegoro pernah tinggal di dalam Fort Rotterdam yang selama ini dipahami secara keliru bahwa Sang Pangeran ditahan di ruangan bawah tanah. Sementara uraian oleh Peter Carey dalam diskusi telah menerangkan dengan jelas bahwa pemerintah kolonial Belanda sangat memahami siapa Sang Pangeran dan apabila mengurungnya secara tidak hormat tentu akan menimbulkan kemarahan dan pemberontakan. Selain itu dari catatan tertulis mengenai kunjungan Pangeran Hendrik de Zeevarder disebutkan bahwa dalam kunjungan tersebut beliau menaiki tangga ke atas untuk menjumpai Pangeran Diponegoro. Dengan demikian maka jelaslah bahwa kamar Sang Pangeran bukanlah di bawah tanah, melainkan di ruang yang saat ini disebut sebagai ruang baca Prof. Matthes. YAD berharap bahwa diskusi yang telah diselenggarakan sore hari tersebut bisa menuntaskan keraguan banyak pihak tentang keberadaan kamar Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam. Diskusi diakhiri dengan harapan bahwa ruang baca tersebut bisa diubah menjadi Kamar Diponegoro yang sangat bernilai sebagai salah satu jejak tinggalan Sang Pangeran dan bisa menjadi ikon yang menarik untuk dikunjungi sebagaimana halnya cerita sukses dari Kamar Diponegoro dari Museum Sejarah Jakarta yang telah dipaparkan dalam diskusi.

 

 

Adapun acara Jelajah berikut diskusi ini dihadiri oleh peserta Temu Pusaka Indonesia 2019 di Toraja-Makassar yang diselenggarakan oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), perwakilan FIB Unhas, ManMa Unhas, dan juga perwakilan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

(WA/CPK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *