Pelepasliaran Harimau Sumatera “Gadih Liku” kembali ke Habitatnya

by / Thursday, 02 March 2017 / Published in Kegiatan Terkini, Lingkungan
IMG_0225

Saat ini populasi harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)  di habitat aslinya di pulau Sumatera, mengalami penurunan yang luar biasa. Jumlahnya sekarang diyakini  kurang dari 400 ekor. Dari enam spesies harimau yang dikenal di dunia, Harimau Sumatra adalah salah satu spesies harimau  yang masih ada.

Harimau1

“Gadih Liku” terlihat ragu-ragu keluar dari kandang baja yang membawanya dari Bukitting

Dengan semakin berkurangnya habitat dan  langkanya makanan,  Harimau Sumatera sekarang berada di ambang kepunahan. Tidak jarang mereka tersasar  memasuki perkampungan penduduk untuk mencari makanan. Pertengahan tahun 2016  seekor harimau muda memasuki perkampungan di kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat dan memangsa ternak penduduk. Warga merasa sangat tidak aman dan ketakutan. Terakhir tanggal 10 Juni 2016, warga desa ini bekerjasama dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat berhasil memerangkap harimau tersebut dan dibawa ke Kinantan Wildlife dan Taman Budaya Kota Bukittinggi (Bukittinggi Zoo) untuk direhabilitasi.

Sebelum kejadian ini, Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) bekerjasama dengan Aspinall Foundation yang berbasis di Inggris dan BKSDA Sumatera Barat telah memulai studi pendahuluan untuk pembangunan pusat rehabilitasi harimau Sumatera yang diberi nama  Pusat Rehabilitasi Satwa Harimau Sumatera Dharmasraya (PRS HSD). Untuk itu BKSDA, LSM serta Universitas Andalas Padang diundang untuk melakukan penelitian. Menindaklanjuti rencana pebangunan PRS HSD tersebut, Fakultas Biologi Universitas Andalas di Padang telah melakukan survei terhadap Taman Nasional  Kerinci Seblat (TNKS) yang diyakini bisa  menjadi lokasi yang sesuai untuk pelepasliaran harimau.

Setelah menjalani rehabilitasi selama 2 bulan di Kebun Binatang Bukittinggi, “Gadih Liku” nama yang diberikan oleh BKSDA kepada harimau betina muda tersebut,  siap untuk dilepasliarkan ke alam bebas  pada 31 Agustus 2016. Sebelum dilepasliarkan,  harimau tersebut diperiksa dengan teliti, baik  fisik maupun kesehatannya termasuk tes darah. Kemudian untuk memantau gerakannya  di alam liar, dipasangkan kalung  GPS aktif yang  disumbangkan oleh Zoological Society of London (ZSL). GPS tersebut akan tetap aktif selama dua (2) tahun.

Pada malam hari tanggal 30 Agustus, 2016, Gadih Liku diangkut dengan kandang baja menuju hutan konservasi Prof. Sumitro Djojohadikusumo di perbatasan TNKS. Sebelum harimau tersebut dikeluarkan dari kandang baja, kawasan hutan tempat pelepasliaran itu diperiksa dengan teliti dan dibersihkan oleh Conservation Society Indonesia (ICS) dari  jerat  yang mungkin sebelumnya dipasang oleh pemburu.

Harimau2

Tim pelepasliaran “Gadih Liku” berfoto sejenak setelah sukses melepasliarkan harimau kembali ke habitatnya

Tim pelepasliaran harimau sampai di lokasi pelepasliaran pagi hari tanggal 31 Agustus 2016 setelah melewati perjalanan panjang, lebih kurang 10 jam  dari Kebun Binatang Bukittinggi ke Dharmasraya. Kemudian, Tim memasang  lembaran plastik hitam dari pintu masuk kandang ke sekelilingnya untuk memandu jalan Gadih Liku ke dalam hutan.

Setelah sukses melepasliarkan Gadih Liku, syukuran pun digelar, berharap harimau betina tersebut selamat dan dapat terus berkembang biak bagi generasi harimau berikutnya. Pada kesempatan yang sama juga diadakan acara doa untuk menandai dimulainya pembangunan Pusat Rehabilitasi Satwa Harimau Sumatera Damasraya (PRS-HSD). Semua pihak berharap bahwa dengan melepas harimau Sumatera ke habitat aslinya akan membantu meningkatkan populasi harimau sebesar 10% pada tahun 2019.

Leave a Reply

TOP