Hashim Djojohadikusumo: Wanatani Aren Berpotensi Bagi Masa Depan Berkelanjutan di Indonesia dan Dunia

by / Wednesday, 13 April 2016 / Published in Siaran Pers

Siaran Pers, 12 April 2016

HASHIM DJOJOHADIKUSUMO: WANATANI AREN BERPOTENSI BAGI MASA DEPAN INDONESIA DAN DUNIA  

Oxford, Inggris — Masalah pemanasan global dan perubahan iklim sudah semakin mengkhawatirkan. Data menunjukan, di Indonesia saat ini tingkat kerusakan akibat pemanasan global mencapai sekitar 2-3 juta hektar per tahun. Sebuah situasi yang mengancam kehidupan kawasan darat dan bentang laut, manusia dan mahluk hidup lainnya. “Dalam situasi tersebut, saya  mau sampaikan bahwa kita dapat melakukan  sebuah program jangka panjang, menyangkut membangun kembali hutan dengan keragamanan hayati untuk mengembalikan habitat spesies satwa liar yang terancam punah, dapat menghasilkan energi yang ramah lingkungan serta makanan, menekan pembebasan karbon, namun pada saat yang sama juga dapat menghasilkan keuntungan, menghasilkan lapangan kerja bagi banyak orang dengan upah layak,” demikian Hashim Djojohadikusumo membuka Kuliah umumnya di Universitas Oxford, Oxford, Inggris (15/4).

Sebuah percobaan yang dilakukan sekelompok pecinta satwa liar, dipimpin oleh Willie Smith yang tergabung dalam Semboja Lestari, untuk mengembalikan hutan sebagai habitat aman bagi satwa liar dengan cara menanam beragam jenis tanaman di satu lahan yang sama, atau disebut dengan sistem Polikultur. Sistem yang memperhatikan keanekaragaman hayati. Jenis tanaman yang ditanam sampai 1200 spesies tanaman dan pohon. Menanam berbagai jenis pohon buah-buahan menjadi kata kunci untuk memungkinkan hutan kembali lestari, membuat burung dan mamalia kembali ke hutan.

Semboja lestari telah membuktikan bahwa reboisasi hutan penanaman dengan sistem polikultur dengan memperhatikan keragamanan hayati berdampak baik bagi pemulihan hutan rusak. Pertanyaannya bagaimana kita dapat menghutankan kembali 88 juta hektar hutan tropis yang secara berkelanjutan telah terdegradasi? Untuk menghutankan kembali satu hektar lahan rusak dan memastikan bahwa satwa liar tidak akan menjadi mangsa manusia yang tidak memiliki tanah membutuhkan biaya sekitar U$2500.

“Kata kuncinya adalah Wanatani (Agro Forestry). Yaitu melakukan usaha pengelolaan hutan atau pohon kayu-kayuan dengan penanaman komoditas atau tanaman pertanian secara polikultur,” kata Hashim Djojohadikusumo, CEO Arsari Group dalam kesempatan tersebut. “Usaha jenis ini memungkinkan investor  membuat keuntungan yang layak dalam jangka waktu yang wajar. Dan di saat yang yang sama kegiatan usaha ini menciptakan suatu kondisi di mana penduduk disekitar hutan diajak ikut melindungi hutan, memperoleh hidup bermartabat dengan menikmati hasil hutan itu sendiri,” ungkapnya lebih lanjut.

Untuk Indonesia yang memiliki banyak jenis tanaman pohon, ada satu jenis yang luar biasa unik yaitu tanaman yang disebut  pohon aren (Arenga Pinnata). Pohon aren memiliki banyak karakteristik unik yang utama adalah bahwa dapat mengeluarkan cairan manis yang dapat diolah menjadi etanol (untuk energi) serta gula yang cocok untuk penderita diabetes karena indeks glikemik yang berada di bawah 30 sedangkan gula pasir putih memiliki indeks di atas 60.

Penelitian telah menunjukkan bahwa satu hektar hutan pohon aren dapat menghasilkan gula minimal tiga kali lipat satu hektar hutan tebu. Dari satu hektar hutan pohon aren dapat dihasilkan minimal 20 ton etanol dengan luas yang sama, pohon tebu hanya menghasilkan 7 ton. Selain itu, pohon aren dapat menghasilkan sepanjang tahun, selama 365 hari, menyediakan lapangan kerja sepanjang tahun. Perkebunan tebu menyediakan lapangan kerja hanya setengah tahun untuk petani tebu.

“Namun, bagi saya fitur yang paling menarik adalah bahwa pohon aren hanya dapat tumbuh dengan baik dan memproduksi cairan gula aren yang baik di lingkungan hutan polikultur. Ini adalah berita yang sangat besar untuk satwa liar yang membutuhkan pohon buah-buahan untuk memberikan rezeki! Selain itu, hutan polikultur juga dapat menekan laju pemanasan global,” lanjut Hashim.

Memahami pentingnya kelestarian lingkungan, Hashim Djojohasikusumo melengkapi kebun sawitnya dengan mengalokasikan 2.400 Ha dari total luas 27.000 Ha untuk upaya-upaya konservasi melalui Hutan Konservasi Soemitro Djojohadikusumo, di Sei Talang, Solok Selatan, Sumatera Barat, dimana didalamnya juga terdapat pusat rehabilitasi satwa Harimau Sumatera. Upaya lainnya dengan wanatani tumpangsari di hutan Semboja Lestari, Semboja, Kalimantan Timur.

“Saya berkesimpulan bahwa ada masa depan yang cerah dalam berinvestasi di bisnis ramah lingkungan. Dimana memulihkan dan melindungi kehidupan liar yang terancam punah, di saat yang sama membuat keuntungan yang sehat. Saya percaya untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan dapat dilakukan jika itu menguntungkan secara finansial dan didukung oleh penduduk lokal,” demikian papar Hashim yang juga dikenal sebagai filantropi dengan perhatian pada pelestarian lingkungan dan satwa liar.

*****

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:

Ariseno Ridhwan

08161692693

Ariseno_ridhwan@arsari.co.id

Leave a Reply

TOP