Hashim Djojohadikusumo Resmikan Mandala Majapahit di UGM

by / Tuesday, 27 October 2015 / Published in Budaya
Pak Hashim berbincang-bincang di ruang ManMa UGMPak Hashim berbincang-bincang di ruang ManMa UGM

Ketua Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), Hashim Djojohadikusumo dan Dekan FIB UGM diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA   telah meresmikan Mandala Majapahit (ManMa) di lantai satu Gedung Margono Djojohadikusumo, FIB-UGM Kampus Bulaksumur pada 5 Desember 2014 lalu. Ini merupakan Mandala Majapahit kedua setelah ManMa  Trowulan. Pembangunan Mandala Majapahit kedua ini merupakan kerja sama antara Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) dengan FIB UGM.

Penempatan Mandala Majapahit di jurusan Arkeologi FIB UGM dimaksudkan agar sarana ini berada  di tengah-tengah civitas akademika FIB UGM  sebagai pendukung utama kegiatan penelitian dan belajar mengajar keilmuan arkeologi. FIB UGM merupakan salah satu pendukung program YAD di Trowulan yaitu Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI) yang dimulai sejak 2008.

Mandala Majapahit merupakan sebuah ruangan  yang dimanfaatkan sebagai museum mini dan perpustakaan yang mewadahi berbagai data, informasi dan hasil kegiatan pelestarian Majapahit.

YAD secara bertahap akan membangun tiga ManMa lagi di tiga universitas  lainnya yaitu Universitas Indonesia (UI), Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan Universitas Udayana (UNUD). Ketiga universitas ini juga merupakan bagian dari tim Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI).  Dalam membangun ManMa tersebut, YAD mendapatkan dukungan dana dari donatur YAD yaitu Ibu Margareth Njoo.

Ketua YAD, Hashim Djojohadikusumo, mengatakan bahwa tujuh ratus tahun lalu (era Majapahit) Patih Gajah Mada bersumpah untuk mempersatukan Nusantara. Kita harus bangga memiliki peradaban yang membanggakan.

Dia juga memberikan gambaran bahwa di era keemasan Majapahit, wilayah kerajaan ini  membentang luas mencakup beberapa negara tetangga, yang sekarang dikenal dengan Malaysia, Singapura dan Vietnam. Di masa Majapahit, kawasan tersebut merupakan satu kesatuan Nusantara.

Hashim meminta agar generasi muda melihat era Majapahit yang sangat menghormati keragaman dan perbedaan. Dia berharap siapa pun generasi muda dan pemimpin negeri ini agar mengambil suri teladan dari sejarah Majapahit tersebut.

Lebih jauh ia berharap partisipasi aktif berbagai pihak untuk memanfaatkan ManMa dengan berbagai kegiatan positif, termasuk melengkapi berbagai data dan hasil penelitian mengenai peninggala Majapahit demi kejayaan Indonesia.

Sementara itu Direktur Eksekutif YAD, Catrini Pratihari Kubontubuh mengharapkan agar keberadaan Mandala Majapahit dapat memperluas  akses kepada masyarakat luas tidak hanya kaum akademisi saja sehingga pemahaman tentang situs Majapahit semakin meningkat.

Wakil Dekan FIB UGM, Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA  mengatakan  sudah sangat banyak penelitian tentang peninggalan Kerajaan Majapahit yang dilakukan para peneliti lokal maupun peneliti  manacanegara, tetapi tidak banyak dari hasil peneltian ini yang dapat  diakses oleh masyarakat dengan mudah.

Acara peresmian ini dihadiri oleh sejumlah pengajar, guru besar dan mahasiswa FIB UGM, terutama dari program studi arkeologi, kalangan media lokal, para pemerhati pelestarian dan komunitas pelestari di Yogyakarta serta para aktivis Save Trowulan yang datang langsung dari Trowulan

 

TOP