Bedah Buku “Jejak Perlawanan Begawan Pejuang – Sumitro Djojohadikusumo”

by / Monday, 26 October 2015 / Published in Pendidikan
Bertukar cenderamata saat bedah buku Prof. SumitroBertukar cenderamata saat bedah buku Prof. Sumitro

Pada 11 Maret 2015 lalu, Pusat Sumber Belajar-Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (PSB-FEBUI) bekerjasama dengan Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD)  mengadakan bedah buku “Jejak Perlawanan Begawan Pejuang – Sumitro Djojohadikusumo” yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan tahun 2000 lalu.

Acara ini dihadiri tidak kurang dari 135 orang terdiri dari para guru besar FEB UI, mahasiswa, dosen FEB UI dan undangan lainnya dari luar FEB UI. Salah satu guru besar FEB UI dan mantan menteri Pertambangan dan Energi zaman Orde Baru, Prof. Subroto, juga berkesempatan hadir dalam acara ini.

Juga berkesempatan hadir keluarga besar Prof. Sumitro Djojohadikusumo, seperti Hashim Djojohadikusumo dan Anie Hashim, Mariani D. Lemaistre, Bianti Djiwandono dan Sudradjad Djiwandono.

Kegiatan ini merupakan apresiasi terhadap perjuangan Prof Sumitro dalam dunia pendidikan, ekonomi dan politik guna membangun Negara Indonesia menjadi lebih baik. Semangat perjuangan dan teladan Sumitro inilah yang ingin diperkenalkan kepada generasi penerus, terutama mahasiswa FEB UI, dimana Sumitro adalah salah satu pendiri fakultas ini.

Dalam acara bedah buku yang dibuka oleh wakil dekan FEB UI,  Dr. Beta Yulianita Gitaharie mewakili  Dekan FEB UI ini ditampilkan beberapa narasumber yang mengenal Prof. Sumitro dengan baik, yaitu Prof. Dr. Moh. Arsjad Anwar, Prof. Mayling Oey-Gardiner, Ph.D., Thomas A.M. Djiwandono, M.A. (salah seorang cucu Prof. Sumitro) dan Komara Djaja, Ph.D sebagai moderator.

Dekan FEB UI Ari Kuncoro yang hadir beberapa saat setelah acara berlangsung, mengungkapkan kesannya terhadap Prof. Sumitro yang dikenal sebagai dosen yang disiplin dan berdandan parlente,  serba rapi. Sumitro, kata Ari, menegaskan bahwa ekonomi memang mencakup pembangunan multidimensi, ada politik, sosiologi, hukum, budaya, tata kelola, kewirausahaan, walaupun benderanya masih bendera ekonomi,” jelasnya di Kampus UI Depok.

Ari Kuncoro mengatakan dalam buku jejak Perlawanan Begawan Pejuang Sumitro Djojohadikusumo, pemikiran ekonomi Sumitro cukup komprehensif karena ilmu ekonomi tidak dapat dilepaskan dari ilmu non-ekonomi. Dengan buku ini diharapkan mahasiswa dapat menggali lagi kebijakan ekonomi pemerintah agar tidak kering.

Buku ini juga berisi perjuangan Sumitro Djojohadikusumo dalam lingkungan keluarga, pendidikan, perjuangan diplomasi dan ketegangan ekonomi yang beliau alami semasa hidupnya. Menurut Prof. Mayling “Sejarah Bangsa Indonesia di awal kemerdekaan ditulis secara menarik sebagai ceritera dengan Prof. Sumitro Djojohadikusumo sebagai pemeran utamanya. Pembaca, terutama yang sudah cukup umur, dengan mudah mengidentifikasi dengan pahlawan dalam ceritera sehingga membuatnya sulit meletakkan buku Jejak Perlawanan Begawan Penjuang. Ceritera perlawanan terhadap musuh bangsa tetap masih relevan hingga kini, termasuk melawan musuh bangsa terbesar, yaitu korupsi.”

Prof. Mayling melanjutkan bahwa “Perekonomian Indonesia tidak berkembang sebagaimana diidamkannya,  walaupun Prof. Sumitro dididik dalam lingkungan pemikiran sosialistis yang humanis dengan kecenderungan ideologis yang berpihak pada pasar dan ramah pada kebutuhan rakyat lemah dan/atau miskin. Sementara perekonomian nasional yang makin didominasi pengusaha besar dengan berbagai kroni ekonomi sangat mengecewakannya. Keadaan sejak paruh kedua penguasaan Orde Baru berlawanan dengan ideologi yang diembannya: ‘kerakyakatan yang tidak pernah padam’. Yang diharapkannya adalah berkembangnya koperasi, namun yang mendominasi adalah Konglomerasi, menguat dan maraknya KKN yang dikatakan telah ‘membudaya’. “Ini musuh bangsa paling ganas hingga kini”, ujar beliau kembali.

Sementara itu, Thomas A.M. Djiwandono, M.A., salah satu cucu Prof. Sumitro, yang berbicara mengenai Sumitro dari sisi keluarga, mengatakan bahwa hampir tidak ada yang berbeda dengan apa yang diketahui publik selama ini. Sedikitnya, ada empat hal yang diungkapkan mengenai pribadi Sumitro dari kacamata Thomas. Pertama, menurutnya Sumitro pribadi yang disiplin. Setiap hari, kakeknya itu selalu bangun tidur pada jam yang sama. Kedua, sikap rasional, yang antara lain tergambar dari cara dia menghadapi semua cucunya dengan cara yang berbeda, sesuai dengan kepribadian atau tipikal sang cucu. Selain itu adalah rasa patriotisme dan selera humor. Mengenai selera humor, Thomas mengisahkan saat keluarganya berada di luar negeri dan dijamu dalam acara minum teh. “Opa (Sumitro) tanya, apa ada Teh Banyumas. Pelayan menggeleng. Lalu, dia malah minta kopi,” cerita Thomas. Faktanya, kata Thomas, Sumitro adalah penggila kopi.

Thomas juga menyebut Sumitro sebagai guru. Hampir semua hal mengenai perkembangan nasional dan dunia, Sumitro meminta pendapat para cucunya. Itulah yang membuat Thomas menilai sosok Sumitro sebagai guru bagi para cucunya.

Prof. Subroto, salah satu guru besar FEB UI dan mantan Menteri Pertambangan dan Energi zaman Kabinet III dan IV Orde Baru, mengatakan,  Sumitro berani mengatakan yang benar itu benar dan salah itu salah. Setiap kalimat Sumitro adalah nasehat yang sangat berharga.

Lebih jauh Prof. Subroto mengatakan untuk menerapkan pemikiran Sumitro, pembangunan ekonomi suatu negara tidak hanya di dasarkan pada ilmu ekonomi, namun harus dilihat dari aspek sosial, geografi, sejarah ilmu bumi dan filosifi Indonesia. Subroto melanjutkan, agar pemikiran Sumitro menjadi teladan bagi generasi muda. Sebagai generasi muda harus berani mengatakan benar atau tidak, harus berpikir rasional yang sesuai dengan data statistik di lapangan dan yang lebih penting harus dilandasi jiwa patriotisme.

Di usia ke-33, Sumitro pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian RI dan ikut mendirikan Fakultas Ekonomi UI. Ia meraih gelar doktor di Nederlandse Economise Hogeschool, Rotterdam, Belanda pada tahun 1943 dengan disertasi berjudul Het Volkscredietwezen in de Depressie.

Sumitro memperoleh banyak penghargaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Misalnya, Bintang Mahaputra Adipradana (II), Panglima Mangku Negara, Kerajaan Malaysia, Grand Cross of Most Exalted Order of the White Elephant, First Class dari Kerajaan Thailand, Grand Cross of the Crown dari Kerajaan Belgia, serta yang lainnya dari Republik Tunisia dan Prancis. (RSB).

TOP