Menjaga Buaian Nusantara

by / Friday, 28 November 2014 / Published in Kliping Media

Republika Online, Senin, 24 November 2014

Kawasan Trowulan di Mojokerto, Jawa Timur, oleh sebagian pihak dikatakan sebagai salah satu lokasi tempat kesatuan wilayah-wilayah yang tersebar di nusantara mula-mula digagas. Di lokasi tersebut, menurut arkeolog, pernah berdiri pusat Kerajaan Majapahit pada abad ke-15.

Sejumlah situs purbakala menjadi bukti-bukti klaim tersebut. Meski begitu, ia saat ini terancam. Tak jauh dari situs yang berisi cecandian, arca, gerabah, dan bekas bangunan kuno tersebut, industri menjamur.

Tak jauh dari Trowulan, beroperasi sebuah perusahaan baja. Selain itu, masyarakat sekitar juga merambah hingga mendekati situs dan membuat berbagai pusat pembuatan batu bata.

Terkait fenomena tersebut, guru besar arkeologi Universitas Indonesia (UI) Prof Mundarjito mengatakan harus ada sterilisasi kawasan Trowulan. “Ancaman keberadaan cagar budaya tidak lain merupakan manusia sendiri,” kata Murdarjito saat memberikan presentasi dalam Acara Festival Trowulan 2014, Ahad (23/11).

Murdarjito mengaungkapkan, sudah menjadi tugas pemerintah melarang bangunan berdiri di Trowulan. Pembangunannya harus diarahkan pada pelindungan situs. Menurutnya, cara melindungi kawasan itu harus dilakukan secara sinergi dengan penentuan kawasan.

Murdarjito menjelaskan, untuk menentukan sebuah cagar budaya, harus dibuat sebuah rencana induk. Adapun yang kerap terjadi, saat rencana induk baru selesai dibuat, cagar budaya sudah mengalami kerusakan.

Direktur Eksekutif Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) Adrian Perkasa mengatakan, Trowulan layak menjadi perhatian dunia. “Trowulan ini sebuah kota kuno yang masif,” kata Adrian yang juga ketua panitia acara Festival Trowulan 2014. Ia mengatakan bahwa dalam tanah yang belum tergali itu diyakini banyak sekali tersimpan jejak sejarah peradaban.

Guru besar arkeologi lainnya dari UI, Edi Setyawati, mengingatkan, menjaga dan melestarikan cagar budaya dari kepunahan tidak perlu mengorbankan kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Tugas pokoknya menjaga situs, tapi juga tidak boleh mengesampingkan kesejahteraan masyarakat sekitar,” kata Edi. Edi mengungkapkan, harus ada solusi yang mampu memenangkan kedua belah pihak. Situs tetap terjaga kelestariaannya, masyarakat pun memeliki penghasilan.

Masyarakat Trowulan bersama Mandala Majapahit yang didirikan Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) menggelar “Festival Trowulan Majapahit 2014” (FTM-2014) untuk pertama kalinya pada 6-23 November.  Kegiatan itu berlokasi di situs prasejarah Kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Ketua YAD Hashim Djojohadikusumo berharap perekonomian masyarakat Trowulan dapat meningkat dengan adanya Mandala Majapahit dalam program pelestarian pusaka budaya. Mandala Majapahit merupakan tempat masyarakat dalam menghimpun berbagai data, informasi, dan temuan terkait peninggalan Majapahit.

“Yang penting kesadaran akan pentingnya pelestarian Majapahit sebagai warisan budaya, sebagai kekayaan bangsa Indonesia,” ujar Hashim.

Leave a Reply

TOP