Raden salehRaden Saleh Syarif Bustaman, Pelopor Taman Margastwa

Eka Budianta

Yayasan Arsari Djojohadikusumo, 2014; 60 hal., 12 cm

Buku saku ini diterbitkan dalam rangka peringatan 150 tahun berdirinya kebon Binatang Tjikini dan berlanjut ke Taman Margasatwa Ragunan (TMR). Buku mungil ini mengajak kita untuk merenungkan pesan-pesan Raden Saleh untuk mencintai satwa dan tanaman dengan cara masing-masing. Kecintaan Raden Saleh diwujudkan dalam goresan lukisan mahakarya  yang hampir selalu menampilkan berbagai jenis satwa khas Indonesia dengan latar belakang flora yang sekarang mungkin sebagian sudah jarang ditemui.  Melalui buku ini digambarkan betapa bernilainya sumbangsih seorang Raden Saleh bagi kemajuan kebun binatang Indonesia di samping jasanya di bidang seni lukis yang mendunia.

SD KArtini100 Tahun Bangunan SD Kartini Semarang 1915-2015

Bambang Eryudhawan

Yayasan Arsari Djojohadikusumo, 2015; 34 hal., 23 cm

ISBN 978-602-70039-5-8

Buku ini merupakan rekaman sejarah bangunan sekolah Kartini Semarang karya arsitek Maclaine Pont dasri dahulu sampai sekarang. Sebagian besar bangunan sekolah Kartini ini telah selesai pada akhir Desember 1914, namun secara resmi baru dibuka oleh Bupati Semarang pada 11 Januari 1915. Di masa penjajahan Jepang, November 1942,  sekolah ini ditutup  dan pada Oktober 1945 bangunan sekolah Kartini mengalami kerusakan hebat. kemudian tahun 1948 ada upaya untuk memulihkan kembali bangunan sekolah tersebut. Pada bulan November 1948 Sekolah kartini Semarang dibuka kembali secara sederhana oleh ketua Perkumpulan Kartini Semarang.

KonservasiKonservasi Lukisan Mahakarya Raden Saleh

Editor: Catrini Pratihari Kubontubuh

Yayasan Arsari Djojohadikusumo, 2014; 64 hal., 21 cm

ISBN 978-602-70039-6-5

Buku ini merupakan sebuah catatan tentang upaya pelestarian mahakarya Raden Saleh, seorang maestro seni rupa Indonesia  koleksi Istana Negara RI. Dua lukisan karya Raden Saleh koleksi Istana Negara RI yang berhasil direstorasi oleh seorang pakar restorasi dari Jerman, Susanne Erhards yaitu Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857) dan Harimau Minum (1863). Satu lukisan lainnya berjudul Patroli tentara Belanda di Gunung Merapi-Merbabu (1871) yang merupakan koleksi pribadi Hashim Djojohjadikusumo. Buku ini juga mencatat pengalaman dari kegiatan teknis pekerjaan konservasu lukisan yang dilakukan pakar restorasi lukisan dari Jerman tersebut dilengkapi dengan foto-foto tahapan pekerjaan restorasi.

Kenang-kenangan dari Tiga Zaman

Tuesday, 07 April 2015 by

Buku Margono-1Kenang-kenangan dari Tiga Zaman, Sebuah Kisah Kekeluargaan Tertulis

Margono Djojohadikusumo

Yayasan Arsari Djojohadikusumo, 2014; 242 hal., 23 cm

ISBN 978-602-70039-0-3 (hard cover)

Ini adalah terjemahan dari buku berbahasa Belanda dengan judul: Herinneringen uit Drie Tijdperken Een Geschreven Familie Overlevering karya penulis yang sama, yaitu Margono Djojohadikusumo. Buku yang pada awalnya hanya ditujukan penulis sebagai kenang-kenangan untuk keluarganya ini diterjemahan oleh Mohammad Radjab (staf pengajar Fakultas Sastra UI) dan  diterbitkan pertamakali oleh PT Indira pada tahun 1969.  Atas saran almarhum Mochtar Lubis, wartawan kawakan Indonesia, buku tersebut diterbitkan untuk masyarakat luas karena kisah keluarga ini memuat juga nilai-nilai sejarah, khususnya berkaitan dengan pergerakan nasional dari periode kolonial Belanda  (1900-1942), Pendudukan Jepang (1942-1945), sampai  Indonesia merdeka (17 Agustus 1945). Ini merupakan edisi kedua dengan beberapa perbaikan dan diterbitkan oleh Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD).

 

Majapahit: Inspiration for the World

Friday, 12 December 2014 by

Majapahit inspirasiMajapahit: Inspiration for the World*

Editors: Catrini Kubontubuh and Peter Carey

Yayasan Arsari Djojohadikusumo, 2014, 111 pages, 25 cm

ISBN 978-602-70039-3-4 (hard cover)

The present volume illustrates these powerful associations linked to the name Majapahit through three initial chapters which explore in turn Majapahit’s relations with the world (Miksic, Chapter 1), the ways in which rituals currently practised in Bali reflect Majapahit precedent (made Wijaya, Chapter 2) and the dynamic and fluid nature of the Majapahit polity as illustrated in the Panji Stories and Rakwi Prapanca’s Nagarakertagma panegyric to the glory of the kingdom at its fourteenth-century height (1365) (Vickers, Chapter 3). These all celebrate the wonder that was Majapahit as pre-colonial state. Unfortunately, there is also a darker side to this inspirational legacy. This has to do with the reality of the present-day remains of the vanished court-city. The extant historical and archaeological data show us how the Majapahit empire may have managed its international diplomacy in what one might call the first ‘global age’ when Zheng He’s (1371-1433) ocean-going fleets brought Ming-dynasty Chinese to the shores of East Africa. This legacy still informs present-day international politics and diplomatic relations in the social, cultural, economic and political realms.

Inspirasi Majapahit

Thursday, 11 December 2014 by
CoverInspirasi Majapahit*
Editor, Daud Aris Tanudirdjo, et.al.

Yayasan Arsari Djojohadikusumo, UI, UGM, Udayana, UNHAS, 2014,  186 hal., 24,5 cm

ISBN 978-602-70039-1-1 (hard cover)
Barangkali kebesaran Majapahit hanyalah rekaan para sejarawan. Mungkin saja kehebatan budaya Majapahit sekedar konstruksi pikir para purbakalawan. Bisa jadi kehebatan Majapahit dan para ponggawanya semata imaji para sastrawan. Namun, fakta sejarah membuktikan Majapahit telah menginspirasi suatu bangsa, Bangsa Indonesia dan selanjutnya, Majapahit akan terus dan terus menginspirasi siapapun yang mau belajar padanya.
Secara fisik, Kerajaan Majapahit memang hanya tinggal reruntuhan bangunan candi, jejak-jejak permukiman dan serpih-serpih beragam artefak yang terserak berhamburan diterjang tuntutan kehidupan hari ini. Namun secara spritual, Majapahit dengan segala kearifan, semangat persatuan, langkah tindaknya, keragaman budayanya, dan juga berbagai kelemahannya tetap menjadi sumber inspirasi yang tak akan habis digali. Buku ini memuat beragam tulisan seputar Majapahit dan merupakan buku pengantar yang baik  bagi siapa saja yang ingin mengetahui tetang kerajaan besar  yang melingkupi kawasan Nusantara dan didirikan pada abad ke-12 oleh Raden Wijaya. Selain itu, buku ini juga dihiasi dengan berbagai foto apik dari berbagai peninggalan kerajaan ini.

 

*) Bagi yang ingin memesan buku ini, hubungi Arya melalui email berikut: manma.trowulan@gmail.com

TAKDIR Riwayat Pangeran Diponegoro

Thursday, 13 March 2014 by

TakdirTAKDIR Riwayat Pangeran Diponegoro

Peter Carey

Kompas, 2014

xxxviii+434 hal., 23 cm

ISBN 978-979-709-799-8

Kenapa kita perlu menulis biografi pahlawan nasional Pangeran Diponegoro (1785-1855)? Di banyak negara lain di dunia, tokoh nasional yang begitu penting pasti telah menjadi subyek banyak penulisan biografi dan kajian sejarah. Setiap aspek kehidupan Sang Pangeran akan dipelajari secara rinci, pemahamannya mengenai Islam dan tentang pusaka Jawa merupakan subyek monografi yang berbobot. Tentu saja akan banyak orang yang juga ingin membaca karya-karya yang ia tulis sendiri, terutama otobiografinya, Babad Diponegoro, naskah indah setebal 1.151 halaman yang disusun selama sembilan bulan (mei 1831-Februari 1832) pada masa pengasingannya di manado (1830-33), dan yang pada (Juni 2013) diterima Komite Penasihat Internasional UNESCO sebagai salah satu dari 299 naskah dari semua negara di dunia yang telah masuk ke Daftar Ingatan Kolektif Dunia (Memory of the World Register). Namun, situasi di Indonesia sangat berbeda: sejarah kini kelihatannya kurang dihargai di Republik ini. Hasilnya, telah terbukti betapa menyakitkan penanganan Jakarta yang amat buruk atas Timor Timur (1975-99) dan kurangnya pemahaman tentang masyarakat, politik dan budaya Aceh. Buku penting ini diterbitkan penerbit Kompas dengan sponsor Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD).

Jejak Perlawanan Begawan Pejuang

Thursday, 13 March 2014 by

 

BegawanJejak Perlawanan Begawan Pejuang

Hendra Esmara, Aristides Katoppo, Heru Cahyono

Sinar Harapan, 2000

Edisi revisi  oleh Yayasan Arsari Djojohadikusumo, 2014

xvii, 504 hal., 21,5 cm

ISBN 979 416 632 4/978 979 416 6321

Bagi Sumitro Djojohadikusumo, human dignity (martabat manusia) dan social justice (keadilan sosial) adalah dua prinsip utama yang harus diperjuangkan dalam membela kebenaran dan keadilan. Walaupun ia harus rela mempertaruhkan dan megorbankan segala hal yang dimilikinya. Baginya suatu tindakan yang nyata adalah mengenai keserasian yang sempurna antara keharmonisan gagasan dan tindakan.

Atas dasar prinsip pengabdian dan perlawanan, ia ikhlas menanggung cap sebagai pemberontak, sewaktu melawan rezin Soekarno yang dianggapnya telah terlalu dekat dengan golongan Komunis.

Di kala senjanya, cobaan datang bagaikan badai menerpa keluarga Sumitro Djojohadikusumo. Namun, ia tidak merasa terpukul atau terguncang melihat keadaan yang dialami anak-anaknya. Ia selalu berujar pada anak-anaknya, “Be yourself. Ambil keputusan sendiri, lalu hadapi konsukuensi dan tanggung jawabnya, kalau salah, ya sudah. Jangan salahkan orang lain, dan jangan pula salahkan nasib buruk. Jangan minta dikasihani. Itu semata-mata konsekuensi dari keputusan sendiri.”

TOP