Bonita, Kehilangan Rimbanya 1/3

Monday, 30 July 2018 by

Bonita Kehilangan Rimbanya 2/3

Monday, 30 July 2018 by

Bonita Kehilangan Rimbanya 3/3

Monday, 30 July 2018 by

Setelah berhasil di rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR HSD), Sopi Rantang,  seekor Harimau Sumatera korban konflik satwa liar-manusia di Kabupaten Agam  Sumatera Barat  dikembalikan ke alam liar Suaka Margasatwa Rimbang Baling, di perbatasan antara Sumatera Barat dan Riau pada 1 Juli 2018. Terlihat Sopi melangkah ke luar kandang,  menatap jauh ke hutan belantara Rimbang Baling  yang bakal menjadi tempat tinggal barunya.

Siaran Pers, 9 Juli 2018

Setelah berhasil di rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR HSD), seekor Harimau Sumatera betina yang diberi nama “Sopi Rantang” dikembalikan ke alam liar (Suaka Margasatwa Rimbang Baling) di perbatasan Sumatera Barat dan Riau pada 1 Juli 2018. Sopi Rantang adalah Harimau Sumatera korban konflik satwa liar-manusia di Kabupaten Agam Sumatera Barat yang pada tanggal 14 April 2018 berhasil dievakuasi oleh BKSDA Sumatera Barat setelah disinyalir memangsa ternak warga. Translokasi satwa tersebut ke PR-HSD dilakukan pada 18 April 2018 dan proses rehabilitasi diawali dengan karantina selama 14 hari untuk dimonitor 24 jam penuh dan dilakukan perekaman medis status kesehatan. Read More

“Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) selaku pengelola Pusat Rehabilitasi Satwa Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD) sangat berbangga telah mendapat kepercayaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk melakukan rehabilitasi Sopi Rantang”, Harimau Sumatera korban konflik satwa liar-manusia di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sopi Rantang pada tanggal 14 April 2018 berhasil dievakuasi oleh BKSDA Sumatera Barat setelah disinyalir memangsa ternak warga. Translokasi satwa tersebut ke PR-HSD dilakukan pada 18 April 2018 dan dilakukan proses rehabilitasi selama 70 hari. Pada 30 Juni 2018 Tim Medis PR-HSD menyatakan bahwa Rantang telah siap di lepasliarkan. Pelepasliaran harimau sumatera ini kemudian dilakukan dengan sukses pada 1 Juli 2018.

Siaran  Pers, 21 April 2018

Konflik Satwa Liar harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan manusia yang telah mengakibatkan jatuhnya dua korban jiwa meninggal, yaitu seorang karyawati PT. Tabung Haji Indo Plantation (THIP) almarhumah Jumiati di perkebunan sawit PT. THIP Desa Tanjung Simpang, Kec. Pelangiran, Kab. Indragiri Hilir dan seorang pekerja bangunan almarhum Yusri di Kampung Danau di Kecamatan yang sama berbatasan dengan perkebunan PT. THIP telah berakhir. Di hari ke 108, “Bonita” akhirnya menyerah kepada Tim Rescue Gabungan, yang tanpa mengenal lelah berusaha mencari Bonita. Read More

 

 

Mandala Majapahit (ManMa) Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanauddin (Unhas) Ujung Pandang diresmikan pada 12 Februari 2018 oleh Ketua Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Hashim Djojohadikusumo. Terkait dengan peresmian tersebut Hashim Djojohadikusumo juga memberikan kuliah umum di hadapan civitas akademika Unhas dengan judul: “Pembangunan Karakter Bangsa,  Kunci Kemajuan Indonesia Raya.

Indonesia pada awalnya memiliki tiga subspesies harimau yaitu harimau bali, jawa dan sumatra. Namun saat ini hanya harimau sumatra yang masih sanggup bertahan, itu pun populasinya di alam diperkirakan tinggal 600 ekor. Secercah harapan mulai tampak bagi keberlangsungan hidup harimau sumatra yang terancam punah. Pemerintah dan masyarakat terus bahu-membahu berusaha meningkatkan populasi tertinggi dalam rantai makanan ini. Apa saja upaya agar si raja tetap bertahan? Insight with Desi Anwar membahasnya dengan Hashim Djojohadikusumo (Direktur Utama PT Tidar Kerinci Agung) dan Wiratno (Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem). Sumber: CNN Indonesia

TOP