Penajam Paser Utara – Iskandar dan Bento, dua individu orangutan Kalimantan, tiba di tanah kelahiran mereka pada Kamis, 3 Oktober 2019, setelah belasan tahun hidup di Sulawesi. Dua orangutan yang didatangkan dari Sulawesi Utara itu siap untuk menjadi penghuni konservasi orangutan di Pusat Suaka Orangutan Arsari.

Bento dan Iskandar merupakan spesies orangutan Kalimantan yang memiliki nama latin Pongo Pygmaeus, spesies yang pada tahun 2019 keberadaannya memasuki tahap kritis. Sebelum berada di Pusat Suaka Orangutan Arsari, Iskandar memiliki masa lalu yang cukup kelam. Tidak seperti Bento yang dijadikan peliharaan warga di Kota Manado sejak lahir hingga berusia 5 tahun, Iskandar merupakan bayi orangutan pertama yang berhasil diselamatkan dari upaya penyelundupan satwa langka dan dilindungi pada tahun 2004. Kala itu Iskandar masih berusia 1 tahun dan akan diselundupkan ke Filipina. Upaya tersebut berhasil digagalkan oleh aparat gabungan sebelum para penyelundup tersebut tiba di Pulau Bitung, Sulawesi Utara, dimana saat itu, Sulawesi Utara merupakan salah satu jalur yang seringkali digunakan untuk menyelundupkan satwa liar ke luar negeri, karena perairan Sulawesi Utara yang memang saling berbatasan langsung dengan wilayah perairan Filipina.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur bersama Yayasan ARSARI Djojohadikusumo (YAD) melalui Pusat Suaka Orangutan ARSARI (PSO-ARSARI), serta Yayasan Masarang melalui Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki, dan para pihak terkait telah melakukan proses translokasi untuk memulangkan Orangutan Bento dan Iskandar kembali ke Kalimantan. Setibanya di Kalimantan Timur, Orangutan Bento dan Iskandar akan ditempatkan sementara di kandang karantina di Pusat Suaka Orangutan Arsari (PSO-ARSARI) yang berada di area HGB PT. ITCI di Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara. Selanjutnya akan diproses untuk dipindahkan ke pulau kecil yang akan dimanfaatkan sebagai suaka (sanctuary) bagi orangutan tersebut.

“Didirikannya PSO-ARSARI ini adalah untuk menjawab kebutuhan suaka bagi Orangutan yang sudah tua dan bertahun-tahun berada dalam kandang karena dipelihara manusia secara tidak legal, disita dari perdagangan satwa ilegal sejak bayi, alasan kesehatan, dan kondisi lain yang tidak memungkinkan dilepasliarkan ke alam,” ungkap Hashim Djojohadikusumo, Ketua YAD sekaligus CEO PT. ITCI.

Orangutan Bento dan Iskandar, ujarnya, nantinya akan ditempatkan di sebuah pulau kecil di Kabupaten Penajem Paser Utara yang akan dikelola oleh YAD bersama BKSDA Kaltim dalam insitusi yang diberi nama Pusat Suaka Orangutan ARSARI (PSO-ARSARI).

Translokasi kedua individu Orangutan telah diberangkatkan dari PPS Tasikoki sejak tanggal 28 September 2019  melalui jalur darat dan laut untuk direncanakan tiba di Pelabuhan Kariangau di Kalimantan Timur pada tanggal 3 Oktober 2019.

“Proses translokasi Orangutan Bento dan Iskandar secara total memakan waktu 5 hari. Proses yang memang tidak mudah, namun perlu untuk dilakukan demi keberpihakan kepada kesejahteraan Orangutan untuk bisa hidup bebas di habitat aslinya di alam Kalimantan,” ungkap Sunandar, Kepala BKSDA Kalimantan Timur, yang diamini oleh Noel Layuk Allo, Kepala BKSDA Sulawesi Utara seusai penandatanganan berita acara serah terima Orangutan Bento dan Iskandar hari Jumat, 4 Oktober 2019.

“Proses translokasi Orangutan Bento dan Iskandar untuk ditempatkan bersama di suaka khusus merupakan rintisan awal Yayasan ARSARI Djojohadikusumo untuk bekontribusi bagi satwa liar yang dilindungi yaitu orangutan, dimana sebelum ini kami lebih banyak berperan aktif dalam rehabilitasi satwa liar lainnya di Sumatera yaitu Harimau Sumatera” papar Catrini Kubontubuh, Direktur Eksekutif YAD.

“Di Pusat Suaka Orangutan Arsari, Bento dan Iskandar akan dilatih untuk mengembalikan sifat liarnya, dimana sebelumnya, Bento dan Iskandar hidup di dalam kandang dan sangat bergantung pada manusia. Jadi disini Intensitas bertemu manusia mulai kita kurangi. Dan meski berada di kandang, kita latih keduanya untuk tidak disuapi. Mengambil makanan dengan sedikit upaya misalnya harus memanjat,” pungkas Catrini.

Iskandar dan Bento merupakan Orangutan yang beruntung dapat pulang kembali lagi ke tanah kelahirannya di Kalimantan. Masih cukup banyak Orangutan lain yang saat ini masih menunggu untuk pulang Kalimantan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *